Saturday, April 30, 2011

resensi

Bersekolah Dengan Air Mata

Sumber: Koran Jakarta, 11 Maret 2011
Judul : Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu
Peresensi: Wildani Hefni
Penulis : Wiwid Prasetyo
Penerbit : Diva Press
Tahun : I, 2010
Tebal : 402 halaman
Harga : Rp46. 000
Sekilas melihat judul buku ini, refleks mesti kita ingat pepatah “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa”.
Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya bodoh. Sungguh besar keinginan orang tua untuk membebaskan anaknya dari kungkungan kebodohan. Tentu jalan itu tak lain melalui pendidikan. Pendidikan adalah pendongkrak pemanusiaan manusia untuk selanjutnya diejawantahkan dalam ruang nyata. Naluri hewani juga akan terkikis oleh pendidikan.
Namun, apa jadinya, jika ribuan dan bahkan jutaan generasi muda yang memiliki kecerdasan luar biasa, memiliki prestasi yang menggunung dan motivasi serta etika yang membanggakan, tak mampu mengenyam pendidikan? Generasi muda yang kreatif, inovatif dan bahkan visioner yang siap menjadi pionir di bidangnya masing-masing, tidak memperoleh pendidikan yang benar-benar mampu memberdayakan? Bisa dipastikan mereka tak mampu untuk merealisasikan harapan dan mimpi-mimpinya.
Banyak faktor yang menyebabkan anak muda tak bisa mengenyam pendidikan. Bisa saja anak kaum mampu namun tak ada keinginan, ada juga anak kaum mampu namun lebih senang terjun dalam dunia bisnis. Sementara novel ini hadir menceritakan seorang Wenas, bocah miskin yang hidup dengan segala penderitaan. Dalam kesehariannya, dia selalu menjerit kelaparan, merasakan kesakitan, perutnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Kelaparan sudah menjadi teman hidupnya. Dia hidup bersama seorang ibu yang juga tak memunyai pekerjaan. Ladang sawahnya gagal panen. Tidak ada ayah, yang ada hanyalah Raga, sosok berpendidikan yang selalu memberikan semangat pada Wenas. Kemauan keras dan usaha untuk dapat mengenyam pendidikan, selalu menggema di hati Wenas. Siapa sangka, dengan usaha yang kuat dari Wenas dan ibu semata wayangnya, ia mampu tersenyum untuk bisa sekolah. Kain sisa berwarna merah dan putih yang tidak terpakai, dijahit untuk dipakai seragam sekolah. Kisah pilu Wenas ternyata tak berhenti, walaupun ia bisa meraih cita-cita tinggi untuk sekolah, ia kembali merasakan sebagai seorang siswa yang sedang mengais ilmu di sekolah hantu.

essay


Adapting to a New Environment

Human beings are very adaptable. We can live in most climates of the word. In the past, people tended to stay in the place they were born, but we move easily from countryside to city, from one part of a country to another and even from country to country. Each people have its own customs and ways of live, and countries also have different languages. When I moved from Gresik to Malang, I changed my behavior in three significant ways.
First, I changed my habit in reading book. Reading was not my hobby when I was. I did not have any time to read even a book. I spent almost all my time watching tv. However, it becomes my hobby since I moved in the city. Buying a book I do once a month. If I have no book or lose of material I try to borrow book from library or any one who has books which can be read. Reading becomes part of my time.
Second, I changed my language style. Customary, in my daily life I talk to another with Javanese language. Some people said that the way I talked to is unusual; they could not catch the word I talked to.
Welcome To My Blog And Enjoy Reading The Entries

Mau Tukar Link? Copy/paste code HTML berikut ke blog anda

Tips & Tutorial