A BIRTHDAY
Christina Rossetti
My heart is like a singing bird
Whose nest is in a water'd shoot;
My heart is like an apple-tree
Whose boughs are bent with thick-set fruit;
My heart is like a rainbow shell
That paddles in a halcyon sea;
My heart is gladder than all these,
Because my love is come to me.
Raise me a daïs of silk and down;
Hang it with vair and purple dyes;
Carve it in doves and pomegranates,
And peacocks with a hundred eyes;
Work it in gold and silver grapes,
In leaves and silver fleurs-de-lys;
Because the birthday of my life
Is come, my love is come to me.
Analysis
The poem is composed of two stanzas and every stanza is composed of eight lines. The first and third line of first stanza is a run-on-line because there is no punctuation mark. Second line and 4th – 8th line, and each line of second stanza are an end-stopped line because it is ended by punctuation mark meaning that we have to stop a moment to take breath at the end of every line.
Tuesday, July 26, 2011
Task
Today’s Activities
I have writing class today at 06.30 am. It was so early for me, but I had to do it because I had chosen it as my writing class. It was the second meeting. I thought I was late attending class because of seeing the lecturer was already in the class. But after coming in class, I just several students there and class had not started yet. Some students came after my coming. They came later than I did. Two minutes later, class was started.
Saturday, April 30, 2011
resensi
Bersekolah Dengan Air Mata
Sumber: Koran Jakarta, 11 Maret 2011
Judul : Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu
Peresensi: Wildani Hefni
Penulis : Wiwid Prasetyo
Penerbit : Diva Press
Tahun : I, 2010
Tebal : 402 halaman
Harga : Rp46. 000
Sekilas melihat judul buku ini, refleks mesti kita ingat pepatah “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa”.
Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya bodoh. Sungguh besar keinginan orang tua untuk membebaskan anaknya dari kungkungan kebodohan. Tentu jalan itu tak lain melalui pendidikan. Pendidikan adalah pendongkrak pemanusiaan manusia untuk selanjutnya diejawantahkan dalam ruang nyata. Naluri hewani juga akan terkikis oleh pendidikan.
Namun, apa jadinya, jika ribuan dan bahkan jutaan generasi muda yang memiliki kecerdasan luar biasa, memiliki prestasi yang menggunung dan motivasi serta etika yang membanggakan, tak mampu mengenyam pendidikan? Generasi muda yang kreatif, inovatif dan bahkan visioner yang siap menjadi pionir di bidangnya masing-masing, tidak memperoleh pendidikan yang benar-benar mampu memberdayakan? Bisa dipastikan mereka tak mampu untuk merealisasikan harapan dan mimpi-mimpinya.
Banyak faktor yang menyebabkan anak muda tak bisa mengenyam pendidikan. Bisa saja anak kaum mampu namun tak ada keinginan, ada juga anak kaum mampu namun lebih senang terjun dalam dunia bisnis. Sementara novel ini hadir menceritakan seorang Wenas, bocah miskin yang hidup dengan segala penderitaan. Dalam kesehariannya, dia selalu menjerit kelaparan, merasakan kesakitan, perutnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Kelaparan sudah menjadi teman hidupnya. Dia hidup bersama seorang ibu yang juga tak memunyai pekerjaan. Ladang sawahnya gagal panen. Tidak ada ayah, yang ada hanyalah Raga, sosok berpendidikan yang selalu memberikan semangat pada Wenas. Kemauan keras dan usaha untuk dapat mengenyam pendidikan, selalu menggema di hati Wenas. Siapa sangka, dengan usaha yang kuat dari Wenas dan ibu semata wayangnya, ia mampu tersenyum untuk bisa sekolah. Kain sisa berwarna merah dan putih yang tidak terpakai, dijahit untuk dipakai seragam sekolah. Kisah pilu Wenas ternyata tak berhenti, walaupun ia bisa meraih cita-cita tinggi untuk sekolah, ia kembali merasakan sebagai seorang siswa yang sedang mengais ilmu di sekolah hantu.
Sumber: Koran Jakarta, 11 Maret 2011
Judul : Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu
Peresensi: Wildani Hefni
Penulis : Wiwid Prasetyo
Penerbit : Diva Press
Tahun : I, 2010
Tebal : 402 halaman
Harga : Rp46. 000
Sekilas melihat judul buku ini, refleks mesti kita ingat pepatah “kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa”.
Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya bodoh. Sungguh besar keinginan orang tua untuk membebaskan anaknya dari kungkungan kebodohan. Tentu jalan itu tak lain melalui pendidikan. Pendidikan adalah pendongkrak pemanusiaan manusia untuk selanjutnya diejawantahkan dalam ruang nyata. Naluri hewani juga akan terkikis oleh pendidikan.
Namun, apa jadinya, jika ribuan dan bahkan jutaan generasi muda yang memiliki kecerdasan luar biasa, memiliki prestasi yang menggunung dan motivasi serta etika yang membanggakan, tak mampu mengenyam pendidikan? Generasi muda yang kreatif, inovatif dan bahkan visioner yang siap menjadi pionir di bidangnya masing-masing, tidak memperoleh pendidikan yang benar-benar mampu memberdayakan? Bisa dipastikan mereka tak mampu untuk merealisasikan harapan dan mimpi-mimpinya.
Banyak faktor yang menyebabkan anak muda tak bisa mengenyam pendidikan. Bisa saja anak kaum mampu namun tak ada keinginan, ada juga anak kaum mampu namun lebih senang terjun dalam dunia bisnis. Sementara novel ini hadir menceritakan seorang Wenas, bocah miskin yang hidup dengan segala penderitaan. Dalam kesehariannya, dia selalu menjerit kelaparan, merasakan kesakitan, perutnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Kelaparan sudah menjadi teman hidupnya. Dia hidup bersama seorang ibu yang juga tak memunyai pekerjaan. Ladang sawahnya gagal panen. Tidak ada ayah, yang ada hanyalah Raga, sosok berpendidikan yang selalu memberikan semangat pada Wenas. Kemauan keras dan usaha untuk dapat mengenyam pendidikan, selalu menggema di hati Wenas. Siapa sangka, dengan usaha yang kuat dari Wenas dan ibu semata wayangnya, ia mampu tersenyum untuk bisa sekolah. Kain sisa berwarna merah dan putih yang tidak terpakai, dijahit untuk dipakai seragam sekolah. Kisah pilu Wenas ternyata tak berhenti, walaupun ia bisa meraih cita-cita tinggi untuk sekolah, ia kembali merasakan sebagai seorang siswa yang sedang mengais ilmu di sekolah hantu.
essay
Adapting to a New Environment
Human beings are very adaptable. We can live in most climates of the word. In the past, people tended to stay in the place they were born, but we move easily from countryside to city, from one part of a country to another and even from country to country. Each people have its own customs and ways of live, and countries also have different languages. When I moved from Gresik to Malang , I changed my behavior in three significant ways.
First, I changed my habit in reading book. Reading was not my hobby when I was. I did not have any time to read even a book. I spent almost all my time watching tv. However, it becomes my hobby since I moved in the city. Buying a book I do once a month. If I have no book or lose of material I try to borrow book from library or any one who has books which can be read. Reading becomes part of my time.
Second, I changed my language style. Customary, in my daily life I talk to another with Javanese language. Some people said that the way I talked to is unusual; they could not catch the word I talked to.
Tuesday, February 15, 2011
Poem
Pernyataan Cinta
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Ibu- Hadad Alwi feat Farhan
Pencipta : Babburayan Tarmizi
yang selalu beriku penerangan
selembut sutra kasihmu 'kan
selalu rasa dalam suka dan duka
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
reff:
kaulah ibuku cinta kasihku
terima kasihku takkan pernah terhenti
kau bagai matahari yang selalu bersinar
sinari hidupku dengan kehangatanmu
bagaikan embun kau sejukkan
hati ini dengan kasih sayangmu
betapa kau sangat berarti
dan bagiku kau takkan pernah terganti
repeat reff
kaulah ibuku cinta kasihku
pengorbananmu sungguh sangat berarti
repeat reff [2x]
sinari hidupku dengan kehangatanmu
Sunday, January 30, 2011
Lirik lagu Kcb Suby ft Ina
Bertasbilah cinta terukir di hatiku
Seindah samudera senja berkilau membentang
Cinta yang sejati yang tersandar di hati
Berlabuh menepi satukan karna Ilahi
Malam penuh doa penawar rindu kasih
Munajatkan maha cinta diatas cinta
Jika memang takdir cinta pasti bertemu
Meski kau dan aku ada di ujung dunia
Reff:
Ketika cinta bertasbih bagai cah'ya tak bertepi
Anugerah terindah itu yang ku impikan
Harapanku tambatkan disetiap sujud malamku
Tuhan bimbing cintaku cinta karna Ilahi
Harapanku tambatkan disetiap sujud malamku
Tuhan bimbing cintaku cinta karna Ilahi
Back to Reff:
Bertasbilah cinta terukir di hatiku
Seindah samudera senja berkilau membentang
Cinta yang sejati yang tersandar di hati
Berlabuh menepi satukan karna Ilahi
Malam penuh doa penawar rindu kasih
Munajatkan maha cinta diatas cinta
Jika memang takdir cinta pasti bertemu
Meski kau dan aku ada di ujung dunia
Back to Reff:
Seindah samudera senja berkilau membentang
Cinta yang sejati yang tersandar di hati
Berlabuh menepi satukan karna Ilahi
Malam penuh doa penawar rindu kasih
Munajatkan maha cinta diatas cinta
Jika memang takdir cinta pasti bertemu
Meski kau dan aku ada di ujung dunia
Reff:
Ketika cinta bertasbih bagai cah'ya tak bertepi
Anugerah terindah itu yang ku impikan
Harapanku tambatkan disetiap sujud malamku
Tuhan bimbing cintaku cinta karna Ilahi
Harapanku tambatkan disetiap sujud malamku
Tuhan bimbing cintaku cinta karna Ilahi
Back to Reff:
Bertasbilah cinta terukir di hatiku
Seindah samudera senja berkilau membentang
Cinta yang sejati yang tersandar di hati
Berlabuh menepi satukan karna Ilahi
Malam penuh doa penawar rindu kasih
Munajatkan maha cinta diatas cinta
Jika memang takdir cinta pasti bertemu
Meski kau dan aku ada di ujung dunia
Back to Reff:
Subscribe to:
Comments (Atom)

